Monday, October 7, 2013

BANGUNLAH KRATON DI ALAS KETONGGO




Kepada KGPH PA Tedjowulan, segeralah bangun Kraton” itu, karena pada dasarnya sudah “ditunggu” khususnya masyarakat Paron. Bolehjadi memang “sudah waktunya” Kraton yang telah direncanakan (diramalkan) nenek moyang itu terbentuk terwujud terrealisasi. Jadi perlihatkanlah dengan sesungguhnya kemampuanmu sebagai seorang “Raja”, yang bahkan karena membangun dari “awal”, insyaAlloh akan terbangun pula suatu sistem dengan “Inspirasi Terbaru dan Terbaik” sedemikian rupa sehingga menjadi “kerajaan” yang rahmatan lil alamin. Menjadi ujung tombak dalam membawa Negeri ini menuju masyarakat Adil Makmur gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja. Dimana diri ini sebagai hamba Alloh yang sangat mendukung hanya menyarankan ikutilah “petunjuk Alloh SWT” dengan menuruti “fitrah Alloh”, karena itulah “Spiritualitas” yang benar. Artinya dalam membangun “Kraton” seorang Tedjowulan hendaknya bersama-sama berusaha mengubah diri menjadi hamba Alloh yang tunduk patuh mengikuti prinsip-prinsip yang terkandung dalam Al Quran dan As Sunnah, sehingga ahlak menjadi ahlak Alloh.
Pelajaran nyata bahwa semua Negeri-Negeri di seluruh pelosok bumi ini telah “gagal” membawa rakyatnya Adil Makmur gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja, baik itu kapitalisme, sosialisme, imperialisme dansebagainya bahkan yang disebut “daullah Islamiyah” juga pada kenyataannya masih demikian “terasa” didominasi oleh sifat-sifat yang sangat “Lokalitas” dalam mewujudkannya. Padahal sifat-sifat “kedirian, golongan”  serta semua sifat yang  masih sangat Lokalitas harus lenyap dalam “merrealisasikan mengejawantahkan” hukum Alloh SWT yang rahmatan lil alamin. Dimana semua yang dari Alloh SWT itu pastilah bersifat “Non Lokalitas” sesuai Nama-NamaNya Terbaik, Asma ul Husna yang Segala Maha. (Bacalah tulisan-tulisan sebelum ini). Artinya bila “kedirian” itu lenyap maka yang tinggal justru “Kehendak Alloh SWT” belaka, sehingga jadilah Alloh SWT sebagai penglihatannya ketika dia melihat, pendengarannya ketika dia mendengar dan hatinya ketika dia berpikir menilai berprilaku dengan akalnya. Itulah “ahlak Alloh” yang merupakan ciri khas ciri hakiki seluruh semua para Nabi dan RasulNya walau di bintang gemintang. dalam hal ini tidak ada “perbedaan” secara hakiki “ahlak Alloh” itu atas seluruh hamba-hambaNya (dimanapun), dan sungguh Alloh SWT Pemilik Asma ul Husna pula yang disembah mahluk Bintang Syira. Kemudian siapapun yang prilakunya “bersesuaian” dengan para Nabi dan RasulNya maka pada saat itu dirinyapun dapat ikatakan “berahlak Alloh SWT” (sebagaimana yang pernah terjadi dalam perang Badar). Karena itulah prinsip spiritual yang benar adalah menjadikan “Nabi itu sungguh lebih utama” dari dirinya sendiri, sehingga dapat “meneladani” secara total prilaku NabiNya. Juga terhadap tiap keputusan yang “bersesuaian” dengan Al Quran dan As Sunnah dirinya akan tunduk  patuh.
Sesungguhnya hanya dengan Alloh SWT maka “Kerajaan” yang didamba dicita-citakan akan dapat terwujud sempurna. Dimana “Keekonomian”pun harus dengan Alloh SWT, prinsip-prinsip yang bersifat Lokalitas selayaknya diganti dibuang dibersihkan dijernihkan, walau tetap tidak mungkin terwujud kecuali dengan “petunjukNya”. Dan bolehjadi hal “Keekonomian” inilah yang dianggap sebagai “tolok ukur” keberhasilan dalam membentuk masyarakat Adil Makmur. Padahal  berapa banyak Negeri-Negeri yang runtuh bahkan dengan “Azhab Alloh” yang demikian dahsyat justru karena “Keekonomian” dianggap sangat berhasil, Negeri itupun terpendam bersama harta benda yang demikian melimpah (mungkin juga seperti Karun yang memiliki harta yang banyak). Karena itulah diri ini sebagai seorang hamba Alloh tidak lebih hanya berusaha membawa menuju Taqwa yang tidak lain berprilaku berahlak Alloh termaksud, karena prilaku Alloh itulah prilaku Taqwa yang sesungguhnya. Dimana di SurgaNya kelak yaitu di "sisi" Alloh SWT yang ada hanyalah prilaku Taqwa belaka yang semakin dan semakin sempurna (meluas sesuai kemaha luasan Surga itu), walau sejak memasuki Surga prilaku Taqwanya sudah sangat sempurna, tidak ada prilaku di luar Taqwa.
Bolehjadi  akan banyak kendala dalam membangun “Kraton yang rahmatan lil alamin” (Non Lokalitas), mengingat demikian dominan serta telah membudaya segala desah nafas denyut-denyut kehidupan dengan sifat-sifat yang sangat Lokalitas, bukan hanya di Paron tetapi di hampir seluruh pelososk bumi ini. Istilah komersil dan bahkan yang dianggap Non Komersilpun tidak lepas dari sifat Lokalitas. Maka satu-satunya cara terbaik adalah kepada pemahaman Agama Alloh yang murni yang Serba Non Lokalitas sesuai Nama-NamaNya Terbaik, Asma ul Husna, kunci segala kunci, sumber segala sumber yang langsung memandang “sisi” Alloh SWT. Itulah Nillai-Nilai Surgawi yang Serba Non Lokalitas dengan lingkup kehidupan yang tidak hanya “sebumi” melainkan segala bumi seru sekalian alam bintang gemintang sebagaimana makna hakekat dari rahmatan lil alamin yang sesungguhnya Tanpa Batas. (Dan sesungguhnya itulah Lingkup kekhalifahan yang “dijanjikan” di seluruh Kitab-KitabNya, dari seluruh para Nabi dan RasulNya.)
Agama Alloh SWT adalah (pe)”nasihat” terbaik tidak hanya bagi diri ini ataupun seorang  KGPH PA Tedjowulan, tetapi seluruh manusia dan jin. Kebersamaan dalam menjalani kehidupan dunia ini secara “fitrah Alloh” tentu dengan penjelasan dan keterangan yang memadai, sehingga demikian nyata sungguh menuju Alloh SWT dan SurgaNya, Surga yang di “sisi”Nya itu. Akan tetapi sungguh tidak akan masuk Surga siapapun termasuk diri ini bila berprilaku tidak “bersesuaian” dengan Asma ul Husna, Surga yang “isinya” hanya kekuatan-kekuatan Segala Maha belaka. Akan “terbakarlah” bagi siapapun yang tidak memiliki kekuatan-kekuatan Alloh SWT, yaitu CahayaNya, maka dalam dirinya harus terpancar Cahaya Alloh SWT Cahaya Diatas Cahaya. Hanya dengan (kekuatan) Alloh SWT yang lebih lebih dan lebih kuat dari segala kemaha dahsyatan alam semesta Langit bumi, sehingga segala kemaha dahsyatan alam semesta Langit bumi itu tidak dapat lagi “menghancurkan” dirinya tubuhnya, dan karena itulah kehidupan di Surga itu “kekal”. Kalau saja manusia tahu untuk apa kehidupan di dunia ini dengan sesungguhnya, pastilah manusia akan berlomba-lomba menuju Alloh SWT, akan senantiasa berbuat baik. Bila saja mengetahui betapa tidak sebandingnya harta benda duniawi yang demikian melimpah dan walaupun bumi ini dalam genggamannya dalam kekuasaannya. Karena bumi ini ternyata hanya bagaikan sebutir pasir di tengah padang pasir bintang gemintang, atau bagaikan setetes air dibanding lautan yang sangat luas. Jadi pandanglah betapa sifat-sifat yang sangat Lokalitas demikian “menipu” dan ternyata demikian mempengaruhi sedemikian banyak manusia.
Bagaimanapun diri ini hanya berusaha menyarankan dengan memberikan pandangan sedemikian rupa, karena bolehjadi sebagai orang yang terbiasa di Kraton maka KGPH PA Tedjowulan tentu memiliki prinsip-prinsip kekratonan sendiri yang telah mentradisi dan membudaya (mendarah daging). Sementara diri inipun sedang berusaha mewujudkan apa yang bolehjadi merupakan “amanah Alloh”, untuk jelasnya bacalah apa yang sudah diri ini tulis di blog “alasketonggoone” agar kita dapat bersama-sama berjuang (bersesuaian) yang mungkin bisa saling menguatkan, dan tidak bertentangan.  Dan karena sesungguhnya apa yang terjadi pada prilaku ayahmu adalah “takdir” sehingga terjadi gonjang-ganjing di Kraton Solo, artinya “memang ini sebenarnya adalah dawuh untuk membangun Kraton di Alas Ketonggo”, apa KGPH PA Tedjowulan mau konsekwen menjalaninya atau tidak, insyaAlloh semua akan berjalan sebagaimana apa yang telah terpandang oleh orang-orang tua dahulu, insyaAlloh. (Sekian dulu). Wallahu a’lam bishshowwab.
Winarno, masnano ponakan Bu Retti Paron, Ngawi.

No comments:

Post a Comment