Tuesday, August 13, 2013

ALAS KETONGGO ONE – MEMBENTUK MASYARAKAT ADIL MAKMUR



Bahwa sesungguhnya Adil itu “bahasa Surga” bahasa “sisi” Alloh SWT yang Maha Adil, sehingga “Nilai-Nilai Surgawi”lah yang selayaknya ditegakkan diejawantahkan dalam kehidupan bermasyarakat. Masing-masing diri (individu) harus dapat menyadari bahwa dirinya telah diperlakukan “sangat Adil” dimana yakin itulah “Nilai-Nilai Surgawi”yang dirinya sungguh dibawa menuju Surga dan bukan fatamorgana Surga. Dengan pandangan ini pula betapa Adil Nabi itu terhadap isteri-isterinya, apapun yang dialami isteri-isteri itu dengan diterapkannya pandangan-pandangan, prilaku, ahlak Alloh oleh seluruh para Nabi dan RasulNya.
Bahwa tidak semua kalimat-kalimat Alloh berdampak menjadi kesenangan-kesenangan Duniawi justru keprihatinan jauh dari “kesenangan”. Karena bila kalimat Alloh itu dampaknya adalah harta yang melimpah akan “celaka” juga bagi yang tidak “amanah”, sedangkan yang berdampak kekurangan harta sesungguhnya Alloh SWT sedang “mengujinya”. Semua untuk menjadikan hamba-hambaNya “bijak” dalam memaknai segala “rahmatNya”. Disinilah letak “perbedaan” untuk Alloh atau tidak untuk Alloh, padahal keduanya awalnya sama-sama  dari kalimat Alloh, semua berproses mengikuti hukum logis Alam Semesta (sunnatullah).
Bila apa yang dari Alloh sungguh dikembalikan ditujukan untuk Alloh, maka hal tersebut akan naik ke langit sebagai “cahaya” sedang bila “tidak amanah” maka akan tetap tertinggal di bumi mengikuti hawanapsunya itu sehingga terputuslah dari “tali AgamaNya”, itulah “perbedaan” nyata  apakah untuk Duniawi atau hanya untuk Alloh belaka. Kepada wujud-wujud kesementaraan yang tidak kekal, sangat Lokalitas yaitu kesenangan  duniawi belaka.ataukah ke tujuan-tujuan Surgawi, kepada “Nilai-Nilai Surgawi yang kekal, Non Lokalitas sesuai menuruti Nama-Nama Tuhannya Terbaik Asma ul Husna. Artnya hanya dengan “petunjuknya” maka dirinya tertuntun menuju Surga, kepada Nilai-Nilai Surgawi yang kekal, dan di”sisi”Nya itulah Nilai-Nilai Keadilan sesungguhnya. Keadilan  duniawi hanyalah fatamorgana yang sama sekali tidak hakekat sehingga sifatnya sangat Lokalitas sementara akan berakhiur pada “kekecewaan”.
Dengan demikian tiap diri harus dapat merasakan sebagai suatu bentuk”keadilan” bila semua diri-diri itu tanpa kecuali bersama-sama tertuntun menuju “Surga” (sebagaimana para Nabi dalam menegakkan hukum di bumi kepada manusia seluruhnya khususnya kepada isteri-isterinya walau  “keberhasilan” itu sendiri bergantung bagaimana diri-diri itu sendiri “menyikapinya”.) dan karena sesungguhnya tidak akan sampai kepada Alloh serta “SurgaNya” bila diri-diri itu sendiri “tidak Adil” . Kita bisa lihat dan renungkan kenyataan-kenyataan Duniawi saat ini betapa banyak diri-diri yang ke “pengadilan” yang seharusnya demi “mencari keadilan”, yang artinya diri itu sendiri sedang berusaha “berlaku Adil” dengan “menegakkan keadilan” , ternyata yang dijalani diingini ditegakkan justru "ketidak Adilan”, yang dengan jalan itu akan didapat harta dan kesenangan Duniawi yang sedikit dan sesaat dari apa yang “dimenangkannya” di Pengadilan. Padahal  bila dirinya itu sungguh dalam “tali Alloh yang Maha Adil” maka yang didapat adalah “cahaya” yang menembus (akan terbuka baginya pintu-pintu) langit menuju SurgaNya yaitu “barokah” yang tidak putus. Bahwa KeAdilan itu dapat “terwujud” bila masing-masing diri juga berlaku “Adil”, juga dapat terwujud di masyarakat bila masyarakat itu sendiri berlaku “Adil”, “keserentakan” gerak keadilan yang menyeluruh sempurna tidak sendiri-sendiri dan setengah-setengah, hanya dapat tercapai dengan “Alloh” yang rahmatNya Non Lokalitas Tanpa Batas, meliputi seluruh masyarakat, tidak dengan yang Lokalitas.
Karena itu sungguh tidak mungkin tercapai Adil Makmur tanpa “petunjukNya”, silahkan  terus perjuangkan bila dengan Teori-Teori Duniawi yang ada saat ini rakyat Negeri ini merasa yakin dapat “mewujudkannya”, pastilah yang didapat hanya fatamorgana belaka. Kecuali mau mengikuti “petunjukNya” yaitu dengan “Alloh SWT”, dimana seorang hamba berusaha menghimpunkan “petunjukNya” itu khususnya isyarat-isyarat dari Para Waliullah Tanah Jawa ini. Hanya dengan ilmu yang “bersesuaian” dengan Beliau-Beliau itulah, serta seluruh para Nabi dan RasulNya seluruhnya semuanya maka akan dapat “terhimpun” petunjuk-petunjukNya itu dengan lebih sempurna. Kemudian uji dan ujilah dengan Asma ul Husna, tidak akan guugur bila itu sungguh benar-benar “petunjukNya”, dan karena Agama itu memang harus teruji bila diuji.
Didirikan perusahaan “Alas Ketonggo One” hanya upaya mewujudkan “Keekonomian” dimana dapat diberlakukan hukum Alloh SWT didalamnya. Maka bila perusahaan-perusahaan sejenis didirikan di berbagai pelosok Negeri ini bahkan di seluruh pelosok Bumi ini, insyaAlloh akan dengan sendirinya terbentuk “Keekonomian” yang hanya untuk Alloh SWT belaka. Untuk Alloh  artinya harus dapat menjadi rahmat atas manusia dan Alam seluruhnya, rahmatan lil alamin (juga akan kepada Agama seluruhnya tentunya dari sejak Nabi Adam AS). Dimana ego-ego diri, ego-ego kepemilikan harus dilenyapkan dan yang tinggal hanyalah Ego Alloh SWT belaka (Bacalah: PERKENALAN PERUSAHAAN). Sebagaimana hal prilaku para Nabi dan Rasul seluruhnya semuanya, Allohlah yang menjadi penglihatannya ketika melihat, pendengarannya ketika mendengar dan hatinya (akalnya) ketika berpikir menyikapi segala sesuatunya dengan bijak, Alloh SWT telah membersihkannya mensucikannya dari gejolak hawanapsu.
Maka para hamba yang sungguh memahami niscaya akan berduyun-duyun berserah diri (mengikuti) ikut berjuang didalamnya, sehingga karena itulah akan terbentuk dengan sendirinya “Keekonomian” yang hanya mencari “Keridhoan” Alloh SWT belaka. Dengan keyakinan yang sangat kuat bahwa Nabi itu lebih utama dari dirinya sendiri, maka “petunjuk” dari seluruh para Nabi dan RasulNya itulah akan membawa dirinya kepada Alloh SWT serta Surga di”sisi”Nya. Hendaknya jadilah termasuk diantara orang-orang yang “amanah” (jangan berdusta dalam menjalani perusahaan), sehingga tidak lagi terus mengikuti arus “Keekonomian” Kapitalis  imperialis yang penuh dengan ego-ego kepemilikan diri serta segala gejolak hawanapsu Duniawi, sehingga apa yang didapat hanyalah fatamorgana Surgawi dengan kesenangan-kesenangan sementara (jadi apakah masih percaya dengan cara-cara itu akan dapat terbentuk masyarakat Adil Makmur? Renungkan  hal tersebut dengan bijak).
Ingatlah “Keekonomian” hakiki itu sungguh akan terbentuk dengan sendirinya bila masing-masing diri berusaha melaksanakan “amanah” dari Tuhannya. Dan sesungguhnya di SurgaNya nanti “Keekonomian Hakiki” itu pula yang ada yang pasti berlaku setelah disucikanNya dibersihkanNya dari sifat-sifat Lokalitas sempit picik yang sangat tidak sempurna, sehingga yang ada hanyalah sifat-sifat Non Lokalitas belaka, yang kekal dan sangat sempurna tidak ada perubahan didalam hukum Alloh SWT untuk selamanya (itulah Nilai-Nilai Surgawi). Jadi sangat tidak benar di Surga kelak tidak ada “Keekonomian” akan tetapi sungguh sama sekali diluar bayangan manusia, karena sangat jauh berbeda dengan “Keekonomian Duniawi” yang berlaku saat ini. (Wajah dan hati senantiasa berseri berceria bercahaya sedemikian rupa tiap bertransaksi keekonomian hakiki tersebut.).  Wilayah  kehidupan manusia sudah sungguh Tanpa Batas (jadi pandang dan renungkan Alam Semesta bintang gemintang ini), sesuai Luas Surga yang Tanpa Batas dimana segala bintang gemintang tercakup, serta kecepatan dengan “Kecepatan Buraq” adalah hal yang sangat biasa logis rasional. Dimana kita tahu kekuatan-kekuatan “sisi” Alloh SWT adalah Cahaya Diatas Cahaya sehingga sungguh nyata dengan sesungguh-sungguhnya bahwa “Masa Depan Manusia Memang Adalah Cahaya”. Karena itulah di dunia ini selayaknya manusia berusaha sungguh-sungguh “menyerap” CahayaNya, Cahaya Langit dan Bumi, sehingga tubuh jiwa raganya hanyalah (kekuatan-kekuatan) Alloh SWT kekuatan-kekuatan yang lebih lebih lebih kuat dari segala kemaha dahsyatan Alam Semesta Langit dan Bumi, sehingga kemaha dahsyatan Alam Semesta Langit dan Bumi tidak lagi dapat “menghancurkannya” (antara lain dengan sholat), karena itulah hidup jadi kekal selamanya.
Tidak berapa lama laghi akan nyata bahwa bila penduduk (masyarakat) suatu Negeri beriman (menjalani amanah dengan sungguh-sungguh), maka akan diturunkan barokah dari langit dan bumi sehingga menjadi sempurnalah RahmatNya atas Negeri tersebut. Kemudian Alloh SWT hendak menyempurnakan RahmatNya yang Sembilan puluh Sembilan maka dibukakanlah seluruh pintu-pintu langit atas Negeri itu, dan bersamaan dengan itu ditariklah segala sesuatu ke “sisi”Nya yaitu Mikraj hingga terjadilah “Kiamat Kubro”. (Sesuai hadits manusia akan berusaha berbuat kebaikan senantiasa ingin memberi walau kehidupannya dengan ukuran sekarang termasuk miskin hingga emas permata yang ditumpuk di pinggir jalan dan tidak ada penjaganya, kecuali Alloh SWT, tidak ada yang sudi mengambilnya, maka hadits yang dianggap nonsens ini pasti akan menjadi kenyataan, itulah tanda-tanda menjelang Kiamat Kubro).
Peristiwa Isra Mikraj memang merupakan gambaran nyata dan sangat jelas bagaimana seluruh umat manusia pada Akhir Jaman ditarik menuju Tuhannya. Dimana pada tiap langit telah menunggu para Nabi dan RasulNya seluruhnya semuanya dari sejak Nabi Adam AS, walau sesungguhnya “diwakili” oleh para Pemimpin para Penghulu dari para Nabi-Nabi dan Rasul-RasulNya terdahulu dalam mengucapkan “Salam” kepada Rasulullah SAW. Karena sesungguhnya bukan “hanya Nabi Adam AS” yang ditemui Rasulullah Muhammad SAW akan tetapi “seluruh” para Nabi dan RasulNya yang “semisal” dengan Nabi Adam AS dalam menerima petunjukNya yaitu Kitab yang diturunkanNya, semua seluruhnya pada langit tersebut menyambut Beliau SAW dengan ucapan “Salam”. Juga bukan hanya Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS melainkan seluruh para Nabi dan RasulNya yang “semisal” dengan Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS sehingga berada pada langit yang sama, semua menyambut Nabi Muhammad SAW dengan “Salam”. Demikian pula Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS hingga Nabi Ibrahim AS, semua menyambut Nabi Muhammad SAW.
Berlapis-lapis bertingkat-tingkat langit sebagaimana Alloh SWT telah menurunkan “petunjuk” yaitu Kitab-KitabNya secara “bertahap” sejak masa Nabi Adam AS, bahkan pada seluruh bumi-bumiNya di segala gugusan bintang gemintang yang semuanya seluruhnya secara niscaya menuju Alloh SWT yang sama, “sisi”Nya dan SurgaNya yang pada kenyataannya semua adalah sama semisal, menuju Lauhil Mahfuz yang sama semisal di sisi Alloh SWT. Sebagaimana SurgaNya yang Luasnya Tanpa Batas dimana segala bintang gemintang tercakup terlingkupi. Hal permisalan-permisalan persamaan-persamaan antar para Nabi dan RasulNya antar seluruh hamba-hambaNya telah “diisyaratkan” secara nyata dan jelas dengan para sahabat bahwa Beliau dan Ali bin Abi Thalib adalah seumpama Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS.
Bahwa semua”penyerapan-penyerapan”  CahayaNya oleh hamba-hambaNya adalah menuruti qadar-qadar jangkauan akal masing-masing yang “naik ke sisi Alloh SWT” dalam lingkup langit demi langit, hingga kelak terjadilah “Hisab” atas manusia dan jin seluruhnya semuanya. Karena itu pula sesungguhnya telah terjadi pula “pengangkatan-pengangkatan” atas para Nabi dan RasulNya terdahulu tanpa kecuali sejak Nabi Adam AS sesuai menuruti qadar-qadar dari petunjuk-petunjuk yang diturunkanNya atas mereka. Adanya “sambutan” para Nabi dan RasulNya di langit demi langit memang menunjukkan bukan hanya Nabi Muhammad SAW saja yang dimikrajkan, bahkan seluruh hamba-hambaNya walaupun dia bukan Nabi atau Rasul. Semua menuruti kadar cahaya yang naik  ke sisiNya. Semua ditarik menuju Surga walau tidak semua sampai ke Surga, Sidratul Muntaha yang di dekatnya ada Surga sebagai tempat tinggal. Kecuali para Nabi dan RasulNya yang Hakiki, pasti akan ditarik menuju Surga yang tidak lain adalah dengan Al Quran, karena itulah (Nur) Nabi Muhammad SAW adalah yang ditunggu-tunggu, bahkan Nabi Adam AS telah memandangnya.
Akan tetapi sungguh banyak yang memandang “fatamorgana Surga” yaitu yang menyalahi “amanah” justru memerangi membunuh para Nabidan RasulNya, tunduk patuh pada ajaran dari bisiskan-bisikan syaitan yang terkutuk, menyeleweng dari AgamaNya menjadikannya “bengkok” tidak lurus. Maka orang-orang yang mengikuti pasti yang didapat juga fatamorgana Surga, walau pada kenyataannya mereka merasa benar-benar mengikuti jejak-jejak para Nabi dan RasulNya serta malaikat-malaikatNya, akan tetapi yang diikuti ternyata bisikan-bisikan syaitan seumpama Samiri dalam umat Nabi Musa AS.
Bahwa Surga itu adanya di”sisi”Nya belaka yaitu setelah melewati langit demi langit seluruhnya, dan tidak dimasuki kecuali oleh orang-orang yang telah disucikan dari Syaitan yang terkutuk. Karena itu bukanlah Surga bila didalam dirinya dalam darah dagingnya masih mengental melekat bercokol padanya syaitan yang terkutuk, dan yang telah menjadi “duri” di dalam dagingnya. Maka menjadi tanda tanya besar ucapan Paulus dalam II Korintus 12 bila disebutkan : tiba-tiba dia terangkat ke tingkat tiga dari “Surga”, kemudian terangkat ketingkat tertinggi (tak terkatakan dari “Surga”), padahal didalam dirinya yaitu pada darah dagingnya masih melekat sosok “utusan Iblis”, walau telah tiga kali memohon agar utusan Iblis itu mundur, tapi apa jawab Tuhannya? Cukuplah kasih karuniaKu padamu, sebab dalam “kelemahanlah” KuasaKu menjadi sempurna.
Jadi bagaimana mungkin “sosok utusan Iblis” itu dapat ikut menjelajahi berbagai tingkat-tingkat Surga? Apakah sungguh-sungguh “Surga” yang disebutnya sebagai “Surga”? Karena nyata dan jelas tidak mungkin seorang yang masih melekat padanya sosok utusan Iblis dapat “memasuki” Surga apalagi menjelajahinya. Lagi pula Surga itu bukanlah di bumi ini atau bahkan langit demi langit, jadi “Surgakah” yang disebut Paulus sebagai “Surga”? (Renungkanlah). Juga ucapan orang yang “sekarat” :Eli, Eli Lamasabaktani! (juga merupakan tanda tanya besar dalam Injil, dimana seseorang yang sekarat dengan ucapan, teriakan demikian itulah yang “disembah” hingga kini). Akan tetapi sesungguhnya banyak perkataan-perkataan yang benar dan sungguh hakekat dalam Injil, yang kelak dapat menyelamatkan dan yang menjadikannya sungguh-sungguh sebagai umat Al Masih Isa putra Maryam. Karena pada tiap-tiap Kitab Suci pasti ada kalimat-kalimat “syafaat” yang hanya Alloh SWT dan RasulNya itu sendiri yang mengetahui. Demikian itu usaha para Nabi dan RasulNya dalam menyelamatkan orang-orang yang sungguh mengikutinya. Orang-orang yang pada Akhir Jaman juga akan terpanggil ketika “kebenaran” yang sesungguhnya datang , dan orang-orang “semisal” dengan mereka itulah yang kelak berusaha “meluruskan” Kitab Suci yang dipegangnya. Apakah itu dari umat Budha, Kong Hu Cu, Hindu, Yahudi, Nasrani, Zarathustra dansebagainya. Sekali lagi tidak seorangpun dari bangsa jin dan manusia melainkan semua seluruhnya “segala umat” akan ditarik dengan Al Quran (betapa ilmu Quran itu sungguh meliputi segala Agama termasuk yang diatas) kepadaNya, walau itu hanya dari “satu kalimat” yang sungguh-sungguh dari Alloh SWT.
Sebagai Kitab Suci Tersempurna Al Quran “meluruskan” Kitab-Kitab sebelumnya, akan tetapi seakan tidak terpandang bacaan lain selain Al Fatehah dan ayat-ayat Al Quran seluruhnya, barulah  ketika ilmu Quran itu “terbuka”  menjadi terpandanglah seluruh Kitab-KitabNya yang lain, seluruhnya semuanya tidak suatu Kitab Sucipun dari sejak Nabi Adam AS melainkan “tercakup”. Pahamilah bagaimana “cahaya” dari Kitab-KitabNya itu naik ke tiap-tiap langit, dan kalimat-kalimat yaitu Kitab-Kitab Suci yang “semisal” akan “terkumpul” dalam “satu langit”, demikianlah sosok-sosok para Nabi dan RasulNya seluruhnya semuanya menyambut Rasulullah Muhammad SAW dengan “salam”. Sekaligus juga suatu bentuk “isyarat” akan “dipertemukanNya” segala AgamaNya sebagai AgamaNya yang “Satu” bagaikan membangun “sebuah rumah”. Dimana “Hisab” semuanya adalah dengan Al Quran yang terurai didalamnya seluruh Kitab-KitabNya seluruhnya semuanya walau di bintang gemintang, karena secara pasti segala Alam sekalian Alam Semesta bintang gemintang seru sekalian Alam adalah dalam wilayah jangkauan Al Quran, rahmatan lil alamin.
Ilmu Quran itu memang sedemikian rupa yang dengan “petunjukNya” itulah akan “dijelaskan” segala apa yang “diperselisihkan” umat manusia selama ini. Bagaimana pada Akhir Jaman seluruh Kitab-Kitab SuciNya itu ditarik kepadaNya, semua telah digambarkan dalam peristiwa Isra Mikraj Rasulullah Muhammad SAW. Dimana Teknologi Buraq merupakan suatu kekhususan pada hambaNya, walau banyak yang lebih percaya Buraq itu hewan misterius yang bahkan masih hidup hingga kini, sehingga menolak dikait-kaitkan dengan istilah “Teknologi”. Padahal seorang hamba yakin Teknologi itu dalam bahasa Agama adalah “Sulthon”, yang dengan itu dapat “menembus” langit (memiliki kekuasaan dalam menjelajahi bintang gemintang). Karena sebagaimana wujud manusia itu dari tanah, jin dari api, malaikat dari cahaya, maka tidak sesuatupun yang tidak merupakan bagian dari Alam Semesta, sehingga tidak sesuatupun yang sedemikian misteriusnya termasuk “buraq”. Sehingga Teknologi Buraq sangat logis rasional yang dengannya manusia akan mencapai perjalanan Antar Bumi Antar Bintang. (Bila saja manusia sungguh menyadari betapa menjadi tidak berartinya harta kekayaan duniawi walau itu sepenuh bumi, dibanding kemaha luasan Alam Semesta bintang gemintang yang kelak ternikmati dalam wujud Surga yang dijanjikan, pastilah segala sesuatu yang dimilikinya hanya untuk Alloh SWT yaitu demi AgamaNya.)
Semua memang berkaitan dengan Akhir Jaman dimana rahmatNya yang Sembilan Puluh Sembilan akan disempurnakanNya. Dan segala hal dari Alloh SWT adalah dari Nama-NamaNya Sendiri, Asma ul Husna, dari dan bagi DiriNya Sendiri, Pemujian bagi DiriNya Sendiri. Sebagaimana hal Lima Unsur dalam ilmu Negeri Cina, tidak akan tergambar lengkap jelas dan sempurna kalau hanya “Satu Unsur” saja, tanah saja, kayu saja atau logam saja misalnya, melainkan harus kelimanya baru akan terpandang sebagai “mata rantai” yang lengkap sempurna. Apakah hanya Nama Alloh saja dari Asma ul Husna? Tentulah baru lengkap sempurna bila Sembilan Puluh Sembilan Nama-NamaNya itu terurai sempurna sebagai satu kesatuan utuh yaitu dalam EsaNya.
Seharusnya kini dapat terpandang jelas pernyataan seorang hamba bahwa didalam EsaNya “perpaduan” Nama-NamaNya adalah gerak kekal Alam Semesta. Yang dalam hal ini adalah “perpaduan” menyeluruh Sembilan Puluh Sembilan yang masing-masing NamaNya adalah rahmatNya dengan “peranNya” masing-masing. Akan tetapi dengan rahmatNya yang Sembilan Puluh Sembilan secara menyeluruh itulah baru terjadilah gerak kekal Alam Semesta yang sesungguhnya, yang kun, faya kun dalam lingkup langit yang tujuh sekaligus. Lima Unsur dari Negeri Cina tidak sesempurna ini hanya pada tataran langit tertentu, “sesuai” dengan keberadaan orang yang diturunkanNya ilmu menunggu di langit ke berapa untuk kemudian ilmu Quran yang menyempurnakannya.
Semakin jelaslah betapa Al Quran adalah “penyempurna” seluruh Kitab-KitabNya, seluruhnya semuanya walau itu di Negeri Cina, semua akan ditarik kepadaNya dengan Al Quran, oleh sebab itulah seluruh para Nabi dan RasulNya menunggu Muhammad dan mengucapkan “salam”. Dimana semua akan “Terkumpul” sebagai “Nilai-Nilai Surgawi Hakiki”, dari dan bagi Nama-NamaNya Sendiri, Pemujian bagi DiriNya Sendiri. Jadi dengan Alloh SWT yang seluruh rahmatNya “dipetikkan” dari Nama-NamaNya Sendiri, Asma ul Husna itulah, merupakan “Nilai-Nilai Surgawi” yang hendak ditegakkan, diejawantahkan dalam kehidupan manusia di bumi, khususnya bagi masyarakat Negeri ini. Sempurnanya mata rantai yang Sembilan Puluh Sembilan seluruhnya semuanya itulah gerak kekal Alam Semesta, dan itulah Nilai-Nilai Surgawi di “sisi”Nya, firman-firmanNya, kalimat-kalimatNya yang sempurna, “kemanapun kita memandang disitulah wajah Alloh SWT” Asma ul Husna, yang segala sesuatu bergantung padaNya, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak sesuatupun yang menyamaiNya.
Agar masyarakat Negeri ini sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa kedatangan para Waliullah di Tanah Jawa ini juga merupakan “isyarat” dari sisi Alloh SWT, “isyarat langit “ tentang datangnya “petunjuk Alloh SWT atas diri hambaNya” ini. Bila ingin terwujud masyarakat Adil Makmur ikutilah “petunjukNya”, dan bila tidak maka silahkan ikuti arus “Keekonomian” Duniawi yang ada saat ini, bila memang percaya dan yakin bahwa dengan “keekonomian Duniawi” tersebutpun cita-cita Negeri ini akan dapat “Terwujud”. Seorang hamba akan tetap mengatakan apa yang mesti dikatakan, walau memang hanya melalui tulisan-tulisan belaka, dan walaupun tidak ada yang sudi membacanya ........, wallahu ‘alam bishshowwab.
Winarno, mas nano ponakan Bu Retti Paron Ngawi.

No comments:

Post a Comment