Bahwa sesungguhnya Adil itu “bahasa Surga”
bahasa “sisi” Alloh SWT yang Maha Adil, sehingga “Nilai-Nilai Surgawi”lah yang
selayaknya ditegakkan diejawantahkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Masing-masing diri (individu) harus dapat menyadari bahwa dirinya telah
diperlakukan “sangat Adil” dimana yakin itulah “Nilai-Nilai Surgawi”yang
dirinya sungguh dibawa menuju Surga dan bukan fatamorgana Surga. Dengan
pandangan ini pula betapa Adil Nabi itu terhadap isteri-isterinya, apapun yang
dialami isteri-isteri itu dengan diterapkannya pandangan-pandangan, prilaku,
ahlak Alloh oleh seluruh para Nabi dan RasulNya.
Bahwa tidak semua kalimat-kalimat Alloh
berdampak menjadi kesenangan-kesenangan Duniawi justru keprihatinan jauh dari
“kesenangan”. Karena bila kalimat Alloh itu dampaknya adalah harta yang
melimpah akan “celaka” juga bagi yang tidak “amanah”, sedangkan yang berdampak
kekurangan harta sesungguhnya Alloh SWT sedang “mengujinya”. Semua untuk
menjadikan hamba-hambaNya “bijak” dalam memaknai segala “rahmatNya”. Disinilah
letak “perbedaan” untuk Alloh atau tidak untuk Alloh, padahal keduanya awalnya
sama-sama dari kalimat Alloh, semua
berproses mengikuti hukum logis Alam Semesta (sunnatullah).
Bila apa yang dari Alloh sungguh dikembalikan
ditujukan untuk Alloh, maka hal tersebut akan naik ke langit sebagai “cahaya”
sedang bila “tidak amanah” maka akan tetap tertinggal di bumi mengikuti
hawanapsunya itu sehingga terputuslah dari “tali AgamaNya”, itulah “perbedaan”
nyata apakah untuk Duniawi atau hanya
untuk Alloh belaka. Kepada wujud-wujud kesementaraan yang tidak kekal, sangat
Lokalitas yaitu kesenangan duniawi
belaka.ataukah ke tujuan-tujuan Surgawi, kepada “Nilai-Nilai Surgawi yang
kekal, Non Lokalitas sesuai menuruti Nama-Nama Tuhannya Terbaik Asma ul Husna.
Artnya hanya dengan “petunjuknya” maka dirinya tertuntun menuju Surga, kepada
Nilai-Nilai Surgawi yang kekal, dan di”sisi”Nya itulah Nilai-Nilai Keadilan
sesungguhnya. Keadilan duniawi hanyalah
fatamorgana yang sama sekali tidak hakekat sehingga sifatnya sangat Lokalitas
sementara akan berakhiur pada “kekecewaan”.
Dengan demikian tiap diri harus dapat
merasakan sebagai suatu bentuk”keadilan” bila semua diri-diri itu tanpa kecuali
bersama-sama tertuntun menuju “Surga” (sebagaimana para Nabi dalam menegakkan
hukum di bumi kepada manusia seluruhnya khususnya kepada isteri-isterinya
walau “keberhasilan” itu sendiri
bergantung bagaimana diri-diri itu sendiri “menyikapinya”.) dan karena
sesungguhnya tidak akan sampai kepada Alloh serta “SurgaNya” bila diri-diri itu
sendiri “tidak Adil” . Kita bisa lihat dan renungkan kenyataan-kenyataan
Duniawi saat ini betapa banyak diri-diri yang ke “pengadilan” yang seharusnya
demi “mencari keadilan”, yang artinya diri itu sendiri sedang berusaha “berlaku
Adil” dengan “menegakkan keadilan” , ternyata yang dijalani diingini ditegakkan
justru "ketidak Adilan”, yang dengan jalan itu akan didapat harta dan
kesenangan Duniawi yang sedikit dan sesaat dari apa yang “dimenangkannya” di
Pengadilan. Padahal bila dirinya itu
sungguh dalam “tali Alloh yang Maha Adil” maka yang didapat adalah “cahaya”
yang menembus (akan terbuka baginya pintu-pintu) langit menuju SurgaNya yaitu
“barokah” yang tidak putus. Bahwa KeAdilan itu dapat “terwujud” bila
masing-masing diri juga berlaku “Adil”, juga dapat terwujud di masyarakat bila
masyarakat itu sendiri berlaku “Adil”, “keserentakan” gerak keadilan yang
menyeluruh sempurna tidak sendiri-sendiri dan setengah-setengah, hanya dapat
tercapai dengan “Alloh” yang rahmatNya Non Lokalitas Tanpa Batas, meliputi
seluruh masyarakat, tidak dengan yang Lokalitas.
Karena itu sungguh tidak mungkin tercapai Adil
Makmur tanpa “petunjukNya”, silahkan
terus perjuangkan bila dengan Teori-Teori Duniawi yang ada saat ini
rakyat Negeri ini merasa yakin dapat “mewujudkannya”, pastilah yang didapat
hanya fatamorgana belaka. Kecuali mau mengikuti “petunjukNya” yaitu dengan
“Alloh SWT”, dimana seorang hamba berusaha menghimpunkan “petunjukNya” itu
khususnya isyarat-isyarat dari Para Waliullah Tanah Jawa ini. Hanya dengan ilmu
yang “bersesuaian” dengan Beliau-Beliau itulah, serta seluruh para Nabi dan
RasulNya seluruhnya semuanya maka akan dapat “terhimpun” petunjuk-petunjukNya
itu dengan lebih sempurna. Kemudian uji dan ujilah dengan Asma ul Husna, tidak
akan guugur bila itu sungguh benar-benar “petunjukNya”, dan karena Agama itu
memang harus teruji bila diuji.
Didirikan perusahaan “Alas Ketonggo One” hanya
upaya mewujudkan “Keekonomian” dimana dapat diberlakukan hukum Alloh SWT didalamnya.
Maka bila perusahaan-perusahaan sejenis didirikan di berbagai pelosok Negeri
ini bahkan di seluruh pelosok Bumi ini, insyaAlloh akan dengan sendirinya
terbentuk “Keekonomian” yang hanya untuk Alloh SWT belaka. Untuk Alloh artinya harus dapat menjadi rahmat atas
manusia dan Alam seluruhnya, rahmatan lil alamin (juga akan kepada Agama
seluruhnya tentunya dari sejak Nabi Adam AS). Dimana ego-ego diri, ego-ego
kepemilikan harus dilenyapkan dan yang tinggal hanyalah Ego Alloh SWT belaka
(Bacalah: PERKENALAN PERUSAHAAN). Sebagaimana hal prilaku para Nabi dan Rasul
seluruhnya semuanya, Allohlah yang menjadi penglihatannya ketika melihat,
pendengarannya ketika mendengar dan hatinya (akalnya) ketika berpikir menyikapi
segala sesuatunya dengan bijak, Alloh SWT telah membersihkannya mensucikannya
dari gejolak hawanapsu.
Maka para hamba yang sungguh memahami niscaya
akan berduyun-duyun berserah diri (mengikuti) ikut berjuang didalamnya,
sehingga karena itulah akan terbentuk dengan sendirinya “Keekonomian” yang
hanya mencari “Keridhoan” Alloh SWT belaka. Dengan keyakinan yang sangat kuat
bahwa Nabi itu lebih utama dari dirinya sendiri, maka “petunjuk” dari seluruh
para Nabi dan RasulNya itulah akan membawa dirinya kepada Alloh SWT serta Surga
di”sisi”Nya. Hendaknya jadilah termasuk diantara orang-orang yang “amanah”
(jangan berdusta dalam menjalani perusahaan), sehingga tidak lagi terus
mengikuti arus “Keekonomian” Kapitalis
imperialis yang penuh dengan ego-ego kepemilikan diri serta segala
gejolak hawanapsu Duniawi, sehingga apa yang didapat hanyalah fatamorgana Surgawi
dengan kesenangan-kesenangan sementara (jadi apakah masih percaya dengan
cara-cara itu akan dapat terbentuk masyarakat Adil Makmur? Renungkan hal tersebut dengan bijak).
Ingatlah “Keekonomian” hakiki itu sungguh akan
terbentuk dengan sendirinya bila masing-masing diri berusaha melaksanakan
“amanah” dari Tuhannya. Dan sesungguhnya di SurgaNya nanti “Keekonomian Hakiki”
itu pula yang ada yang pasti berlaku setelah disucikanNya dibersihkanNya dari
sifat-sifat Lokalitas sempit picik yang sangat tidak sempurna, sehingga yang
ada hanyalah sifat-sifat Non Lokalitas belaka, yang kekal dan sangat sempurna
tidak ada perubahan didalam hukum Alloh SWT untuk selamanya (itulah Nilai-Nilai
Surgawi). Jadi sangat tidak benar di Surga kelak tidak ada “Keekonomian” akan
tetapi sungguh sama sekali diluar bayangan manusia, karena sangat jauh berbeda
dengan “Keekonomian Duniawi” yang berlaku saat ini. (Wajah dan hati senantiasa
berseri berceria bercahaya sedemikian rupa tiap bertransaksi keekonomian hakiki
tersebut.). Wilayah kehidupan manusia sudah sungguh Tanpa Batas
(jadi pandang dan renungkan Alam Semesta bintang gemintang ini), sesuai Luas Surga
yang Tanpa Batas dimana segala bintang gemintang tercakup, serta kecepatan
dengan “Kecepatan Buraq” adalah hal yang sangat biasa logis rasional. Dimana
kita tahu kekuatan-kekuatan “sisi” Alloh SWT adalah Cahaya Diatas Cahaya
sehingga sungguh nyata dengan sesungguh-sungguhnya bahwa “Masa Depan Manusia
Memang Adalah Cahaya”. Karena itulah di dunia ini selayaknya manusia berusaha
sungguh-sungguh “menyerap” CahayaNya, Cahaya Langit dan Bumi, sehingga tubuh
jiwa raganya hanyalah (kekuatan-kekuatan) Alloh SWT kekuatan-kekuatan yang
lebih lebih lebih kuat dari segala kemaha dahsyatan Alam Semesta Langit dan
Bumi, sehingga kemaha dahsyatan Alam Semesta Langit dan Bumi tidak lagi dapat
“menghancurkannya” (antara lain dengan sholat), karena itulah hidup jadi kekal
selamanya.
Tidak berapa lama laghi akan nyata bahwa bila
penduduk (masyarakat) suatu Negeri beriman (menjalani amanah dengan
sungguh-sungguh), maka akan diturunkan barokah dari langit dan bumi sehingga
menjadi sempurnalah RahmatNya atas Negeri tersebut. Kemudian Alloh SWT hendak
menyempurnakan RahmatNya yang Sembilan puluh Sembilan maka dibukakanlah seluruh
pintu-pintu langit atas Negeri itu, dan bersamaan dengan itu ditariklah segala
sesuatu ke “sisi”Nya yaitu Mikraj hingga terjadilah “Kiamat Kubro”. (Sesuai
hadits manusia akan berusaha berbuat kebaikan senantiasa ingin memberi walau
kehidupannya dengan ukuran sekarang termasuk miskin hingga emas permata yang
ditumpuk di pinggir jalan dan tidak ada penjaganya, kecuali Alloh SWT, tidak
ada yang sudi mengambilnya, maka hadits yang dianggap nonsens ini pasti akan
menjadi kenyataan, itulah tanda-tanda menjelang Kiamat Kubro).
Peristiwa Isra Mikraj memang merupakan
gambaran nyata dan sangat jelas bagaimana seluruh umat manusia pada Akhir Jaman
ditarik menuju Tuhannya. Dimana pada tiap langit telah menunggu para Nabi dan
RasulNya seluruhnya semuanya dari sejak Nabi Adam AS, walau sesungguhnya
“diwakili” oleh para Pemimpin para Penghulu dari para Nabi-Nabi dan
Rasul-RasulNya terdahulu dalam mengucapkan “Salam” kepada Rasulullah SAW.
Karena sesungguhnya bukan “hanya Nabi Adam AS” yang ditemui Rasulullah Muhammad
SAW akan tetapi “seluruh” para Nabi dan RasulNya yang “semisal” dengan Nabi
Adam AS dalam menerima petunjukNya yaitu Kitab yang diturunkanNya, semua
seluruhnya pada langit tersebut menyambut Beliau SAW dengan ucapan “Salam”.
Juga bukan hanya Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS melainkan seluruh para Nabi dan
RasulNya yang “semisal” dengan Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS sehingga berada
pada langit yang sama, semua menyambut Nabi Muhammad SAW dengan “Salam”.
Demikian pula Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS hingga Nabi Ibrahim AS, semua
menyambut Nabi Muhammad SAW.
Berlapis-lapis bertingkat-tingkat langit
sebagaimana Alloh SWT telah menurunkan “petunjuk” yaitu Kitab-KitabNya secara
“bertahap” sejak masa Nabi Adam AS, bahkan pada seluruh bumi-bumiNya di segala
gugusan bintang gemintang yang semuanya seluruhnya secara niscaya menuju Alloh
SWT yang sama, “sisi”Nya dan SurgaNya yang pada kenyataannya semua adalah sama
semisal, menuju Lauhil Mahfuz yang sama semisal di sisi Alloh SWT. Sebagaimana
SurgaNya yang Luasnya Tanpa Batas dimana segala bintang gemintang tercakup
terlingkupi. Hal permisalan-permisalan persamaan-persamaan antar para Nabi dan
RasulNya antar seluruh hamba-hambaNya telah “diisyaratkan” secara nyata dan
jelas dengan para sahabat bahwa Beliau dan Ali bin Abi Thalib adalah seumpama
Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS.
Bahwa semua”penyerapan-penyerapan” CahayaNya oleh hamba-hambaNya adalah menuruti
qadar-qadar jangkauan akal masing-masing yang “naik ke sisi Alloh SWT” dalam
lingkup langit demi langit, hingga kelak terjadilah “Hisab” atas manusia dan
jin seluruhnya semuanya. Karena itu pula sesungguhnya telah terjadi pula
“pengangkatan-pengangkatan” atas para Nabi dan RasulNya terdahulu tanpa kecuali
sejak Nabi Adam AS sesuai menuruti qadar-qadar dari petunjuk-petunjuk yang
diturunkanNya atas mereka. Adanya “sambutan” para Nabi dan RasulNya di langit
demi langit memang menunjukkan bukan hanya Nabi Muhammad SAW saja yang
dimikrajkan, bahkan seluruh hamba-hambaNya walaupun dia bukan Nabi atau Rasul. Semua
menuruti kadar cahaya yang naik ke
sisiNya. Semua ditarik menuju Surga walau tidak semua sampai ke Surga, Sidratul
Muntaha yang di dekatnya ada Surga sebagai tempat tinggal. Kecuali para Nabi
dan RasulNya yang Hakiki, pasti akan ditarik menuju Surga yang tidak lain
adalah dengan Al Quran, karena itulah (Nur) Nabi Muhammad SAW adalah yang
ditunggu-tunggu, bahkan Nabi Adam AS telah memandangnya.
Akan tetapi sungguh banyak yang memandang
“fatamorgana Surga” yaitu yang menyalahi “amanah” justru memerangi membunuh
para Nabidan RasulNya, tunduk patuh pada ajaran dari bisiskan-bisikan syaitan
yang terkutuk, menyeleweng dari AgamaNya menjadikannya “bengkok” tidak lurus.
Maka orang-orang yang mengikuti pasti yang didapat juga fatamorgana Surga,
walau pada kenyataannya mereka merasa benar-benar mengikuti jejak-jejak para
Nabi dan RasulNya serta malaikat-malaikatNya, akan tetapi yang diikuti ternyata
bisikan-bisikan syaitan seumpama Samiri dalam umat Nabi Musa AS.
Bahwa Surga itu adanya di”sisi”Nya belaka
yaitu setelah melewati langit demi langit seluruhnya, dan tidak dimasuki
kecuali oleh orang-orang yang telah disucikan dari Syaitan yang terkutuk.
Karena itu bukanlah Surga bila didalam dirinya dalam darah dagingnya masih
mengental melekat bercokol padanya syaitan yang terkutuk, dan yang telah
menjadi “duri” di dalam dagingnya. Maka menjadi tanda tanya besar ucapan Paulus
dalam II Korintus 12 bila disebutkan : tiba-tiba dia terangkat ke tingkat tiga
dari “Surga”, kemudian terangkat ketingkat tertinggi (tak terkatakan dari
“Surga”), padahal didalam dirinya yaitu pada darah dagingnya masih melekat
sosok “utusan Iblis”, walau telah tiga kali memohon agar utusan Iblis itu
mundur, tapi apa jawab Tuhannya? Cukuplah kasih karuniaKu padamu, sebab dalam
“kelemahanlah” KuasaKu menjadi sempurna.
Jadi bagaimana mungkin “sosok utusan Iblis”
itu dapat ikut menjelajahi berbagai tingkat-tingkat “Surga”? Apakah sungguh-sungguh
“Surga” yang disebutnya sebagai “Surga”? Karena nyata dan jelas tidak mungkin seorang yang
masih melekat padanya sosok utusan Iblis dapat “memasuki” Surga apalagi
menjelajahinya. Lagi pula Surga itu bukanlah di bumi ini atau bahkan langit
demi langit, jadi “Surgakah” yang disebut Paulus sebagai “Surga”?
(Renungkanlah). Juga ucapan orang yang “sekarat” :Eli, Eli Lamasabaktani! (juga
merupakan tanda tanya besar dalam Injil, dimana seseorang yang sekarat dengan
ucapan, teriakan demikian itulah yang “disembah” hingga kini). Akan tetapi sesungguhnya banyak
perkataan-perkataan yang benar dan sungguh hakekat dalam Injil, yang kelak
dapat menyelamatkan dan yang menjadikannya sungguh-sungguh sebagai umat Al
Masih Isa putra Maryam. Karena pada tiap-tiap Kitab Suci pasti ada
kalimat-kalimat “syafaat” yang hanya Alloh SWT dan RasulNya itu sendiri yang
mengetahui. Demikian itu usaha para Nabi dan RasulNya dalam menyelamatkan
orang-orang yang sungguh mengikutinya. Orang-orang yang pada Akhir Jaman juga
akan terpanggil ketika “kebenaran” yang sesungguhnya datang , dan orang-orang
“semisal” dengan mereka itulah yang kelak berusaha “meluruskan” Kitab Suci yang
dipegangnya. Apakah itu dari umat Budha, Kong Hu Cu, Hindu, Yahudi, Nasrani,
Zarathustra dansebagainya. Sekali lagi tidak seorangpun dari bangsa jin dan
manusia melainkan semua seluruhnya “segala umat” akan ditarik dengan Al Quran
(betapa ilmu Quran itu sungguh meliputi segala Agama termasuk yang diatas)
kepadaNya, walau itu hanya dari “satu kalimat” yang sungguh-sungguh dari Alloh
SWT.
Sebagai Kitab Suci
Tersempurna Al Quran “meluruskan” Kitab-Kitab sebelumnya, akan tetapi seakan
tidak terpandang bacaan lain selain Al Fatehah dan ayat-ayat Al Quran
seluruhnya, barulah ketika ilmu Quran itu “terbuka” menjadi terpandanglah seluruh Kitab-KitabNya
yang lain, seluruhnya semuanya tidak suatu Kitab Sucipun dari sejak Nabi Adam
AS melainkan “tercakup”. Pahamilah bagaimana “cahaya” dari
Kitab-KitabNya itu naik ke tiap-tiap langit, dan kalimat-kalimat yaitu
Kitab-Kitab Suci yang “semisal” akan “terkumpul” dalam “satu langit”,
demikianlah sosok-sosok para Nabi dan RasulNya seluruhnya semuanya menyambut
Rasulullah Muhammad SAW dengan “salam”. Sekaligus juga suatu bentuk “isyarat”
akan “dipertemukanNya” segala AgamaNya sebagai AgamaNya yang “Satu” bagaikan
membangun “sebuah rumah”. Dimana “Hisab” semuanya adalah dengan Al Quran yang
terurai didalamnya seluruh Kitab-KitabNya seluruhnya semuanya walau di bintang
gemintang, karena secara pasti segala Alam sekalian Alam Semesta bintang
gemintang seru sekalian Alam adalah dalam wilayah jangkauan Al Quran, rahmatan
lil alamin.
Ilmu Quran itu memang sedemikian rupa yang
dengan “petunjukNya” itulah akan “dijelaskan” segala apa yang “diperselisihkan”
umat manusia selama ini. Bagaimana pada Akhir Jaman seluruh Kitab-Kitab SuciNya
itu ditarik kepadaNya, semua telah digambarkan dalam peristiwa Isra Mikraj
Rasulullah Muhammad SAW. Dimana Teknologi Buraq merupakan suatu kekhususan pada
hambaNya, walau banyak yang lebih percaya Buraq itu hewan misterius yang bahkan
masih hidup hingga kini, sehingga menolak dikait-kaitkan dengan istilah
“Teknologi”. Padahal seorang hamba yakin Teknologi itu dalam bahasa Agama
adalah “Sulthon”, yang dengan itu dapat “menembus” langit (memiliki kekuasaan
dalam menjelajahi bintang gemintang). Karena sebagaimana wujud manusia itu dari
tanah, jin dari api, malaikat dari cahaya, maka tidak sesuatupun yang tidak
merupakan bagian dari Alam Semesta, sehingga tidak sesuatupun yang sedemikian
misteriusnya termasuk “buraq”. Sehingga Teknologi Buraq sangat logis rasional
yang dengannya manusia akan mencapai perjalanan Antar Bumi Antar Bintang. (Bila
saja manusia sungguh menyadari betapa menjadi tidak berartinya harta kekayaan
duniawi walau itu sepenuh bumi, dibanding kemaha luasan Alam Semesta bintang
gemintang yang kelak ternikmati dalam wujud Surga yang dijanjikan, pastilah
segala sesuatu yang dimilikinya hanya untuk Alloh SWT yaitu demi AgamaNya.)
Semua memang berkaitan dengan Akhir Jaman
dimana rahmatNya yang Sembilan Puluh Sembilan akan disempurnakanNya. Dan segala
hal dari Alloh SWT adalah dari Nama-NamaNya Sendiri, Asma ul Husna, dari dan
bagi DiriNya Sendiri, Pemujian bagi DiriNya Sendiri. Sebagaimana hal Lima Unsur
dalam ilmu Negeri Cina, tidak akan tergambar lengkap jelas dan sempurna kalau
hanya “Satu Unsur” saja, tanah saja, kayu saja atau logam saja misalnya,
melainkan harus kelimanya baru akan terpandang sebagai “mata rantai” yang
lengkap sempurna. Apakah hanya Nama Alloh saja dari Asma ul Husna? Tentulah
baru lengkap sempurna bila Sembilan Puluh Sembilan Nama-NamaNya itu terurai
sempurna sebagai satu kesatuan utuh yaitu dalam EsaNya.
Seharusnya kini dapat terpandang jelas
pernyataan seorang hamba bahwa didalam EsaNya “perpaduan” Nama-NamaNya adalah
gerak kekal Alam Semesta. Yang dalam hal ini adalah “perpaduan” menyeluruh
Sembilan Puluh Sembilan yang masing-masing NamaNya adalah rahmatNya dengan
“peranNya” masing-masing. Akan tetapi dengan rahmatNya yang Sembilan Puluh
Sembilan secara menyeluruh itulah baru terjadilah gerak kekal Alam Semesta yang
sesungguhnya, yang kun, faya kun dalam lingkup langit yang tujuh sekaligus.
Lima Unsur dari Negeri Cina tidak sesempurna ini hanya pada tataran langit
tertentu, “sesuai” dengan keberadaan orang yang diturunkanNya ilmu menunggu di
langit ke berapa untuk kemudian ilmu Quran yang menyempurnakannya.
Semakin jelaslah betapa Al Quran adalah “penyempurna”
seluruh Kitab-KitabNya, seluruhnya semuanya walau itu di Negeri Cina, semua
akan ditarik kepadaNya dengan Al Quran, oleh sebab itulah seluruh para Nabi dan
RasulNya menunggu Muhammad dan mengucapkan “salam”. Dimana semua akan
“Terkumpul” sebagai “Nilai-Nilai Surgawi Hakiki”, dari dan bagi Nama-NamaNya
Sendiri, Pemujian bagi DiriNya Sendiri. Jadi dengan Alloh SWT yang seluruh
rahmatNya “dipetikkan” dari Nama-NamaNya Sendiri, Asma ul Husna itulah, merupakan
“Nilai-Nilai Surgawi” yang hendak ditegakkan, diejawantahkan dalam kehidupan
manusia di bumi, khususnya bagi masyarakat Negeri ini. Sempurnanya mata rantai
yang Sembilan Puluh Sembilan seluruhnya semuanya itulah gerak kekal Alam
Semesta, dan itulah Nilai-Nilai Surgawi di “sisi”Nya, firman-firmanNya, kalimat-kalimatNya
yang sempurna, “kemanapun kita memandang disitulah wajah Alloh SWT” Asma ul
Husna, yang segala sesuatu bergantung padaNya, tidak beranak dan tidak
diperanakkan, dan tidak sesuatupun yang menyamaiNya.
Agar masyarakat Negeri ini sadar dengan
sesadar-sadarnya bahwa kedatangan para Waliullah di Tanah Jawa ini juga
merupakan “isyarat” dari sisi Alloh SWT, “isyarat langit “ tentang datangnya
“petunjuk Alloh SWT atas diri hambaNya” ini. Bila ingin terwujud masyarakat
Adil Makmur ikutilah “petunjukNya”, dan bila tidak maka silahkan ikuti arus
“Keekonomian” Duniawi yang ada saat ini, bila memang percaya dan yakin bahwa
dengan “keekonomian Duniawi” tersebutpun cita-cita Negeri ini akan dapat
“Terwujud”. Seorang hamba akan tetap mengatakan apa yang mesti dikatakan, walau
memang hanya melalui tulisan-tulisan belaka, dan walaupun tidak ada yang sudi
membacanya ........, wallahu ‘alam bishshowwab.
Winarno, mas nano ponakan Bu Retti Paron
Ngawi.
No comments:
Post a Comment