Sunday, August 25, 2013

PARA TOKOH REFORMASI “BERSATULAH”



Duduklah semua dalam “Satu Meja”, ingatlah suatu hadits bagaimana “Hajar Aswad” hendak diangkat “seorang diri” maka yang lain “protes”, kemudian Muhammad membentangkan “selembar kain”, kemudian “Hajar Aswad” diletakkan ditengahnya, maka dengan kain itu semua Pemimpin dapat ikut serta dalam “kebersamaan”. Kalau saja Negeri ini bahkan bumi ini dapat dipikul “amanah” itu bersama-sama atau bahkan ke wilayah yang lebih luas Alam Semesta seru sekalian alam bintang gemintang pastilah jadi lebih ringan, walau tetap tidak mungkin terpikul sempurna “amanah” itu kecuali dengan “Alloh SWT” Tuhan seru sekalian alam.
Negeri ini memiliki PANCASILA dengan simbol Bintang yang seharusnya sangat tepat kalau sekaligus untuk tujuan mencapai Bintang. Reformasi ini sebenarnya hendak diarahkan kemana? Kalau untuk “Alloh SWT” maka harus dapat menjadi “rahmat” atas manusia seluruhnya serta Alam Semesta, rahmatan lil alamin. Akan tetapi kalau tidak untuk Alloh SWT maka sila Ketuhanan Yang Maha Esa tersebut selayaknya diuraikan lagi sehingga menjadi sangat jelas. Alangkah sempurnanya dan sangat Idealis bila masing-masing “Tokoh Reformasi” berkomitmen untuk dapat menjadi “rahmat bagi Alam Semesta” , sehingga “kebersamaan” dalam mengemban “amanah” itupun semata-mata untuk “mencari Keridhoan Alloh SWT belaka”, ke yang Non Lokalitas dan tidak lagi ke yang Lokalitas. Dimana para Pemimpin terdahulu sedikit banyak demikian “terpengaruh” oleh sifat-sifat yang sangat Lokalitas. Maka menjadi “pelajaran” berharga agar untuk ke depan tidak terulang lagi, terjerumus pada kenyataan yang sama semisal yaitu pada sifat yang sangat Lokalitas tersebut. Untuk itulah semua “Tokoh Reformasi” harus dapat kembali duduk bersama dalam “Satu Meja”, agar dapat mengembalikan arah Reformasi yang sesungguhnya, sehingga pengorbanan para mahasiswa selama ini serta rakyat yang menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik dapat terwujud sempurna dan tidak menjadi sia-sia.
Karena itu pemilihan Amin Rais oleh seorang hamba sama sekali bukan karena Partai, yang kita tahu sangat Lokalitas, akan tetapi Gema Reformasi yang “hampir pudar” harus dikembalikan ke spirit asal awal atau fitrah yang pasti “ada” peran kekuatan-kekuatan langsung dari “Alloh SWT” dimana banyak manusia yang bahkan sama sekali tidak menyadarinya. Figur Gus Dur sebagai pembawa “Nuansa” rahmat Alloh SWT itu memang tidak mudah untuk dipahami “ditangkap” sebagai peran Alloh SWT didalamnya. Bahwa seorang hamba memilih adalah dengan “petunjukNya” yang terlepas dari imej suatu golongan apakah itu NU atau Muhammadiyah. Bila saja umat Islam  khususnya di Negeri ini menyadari bahwa di dalam “Satu Masjid” harus ada yang pakai (doa) qunut dan juga yang tidak pakai qunut. Karena “cahaya Alloh SWT” pastilah akan dapat “sempurna”  tertangkap oleh “yang tepat” dan siapapun yang “dapat” pastilah akan dikembalikan kepada Alloh SWT. Artinya semua “cahaya Alloh” (akan datang sebagai “isyarat inspirasi wahyu dansebagainya”) tidak lain untuk mengembalikan manusia kepada fitrah, jadi untuk seluruh manusia juga, baik itu didapat oleh yang pakai qunut ataupun tidak. Apakah NU sungguh dapat membuktikan bahwa “saat memakai qunut” itulah maka Rasulullah Muhammad SAW mencapai Sidratul Muntaha? Ataukah merupakan “perkembangan” yaitu setelah peristiwa Isra Mikraj? Bila merupakan “perkembangan” maka memang harus ada “kedua-duanya” (dua cara sholat itu memang harus ada). Dalam hal ini tidak ada istilah mana yang benar dan yang salah, akan tetapi siapa saja yang dapat “menyerap” cahaya Alloh SWT itu dengan lebih sempurna, yang jelas bukan atas nama Ego yang sangat Lokalitas melainkan Ego Alloh SWT belaka.
Ini adalah sebagaimana “perbedaan” awal puasa Romadhan dan Idul Fitri, bagi pandangan seorang hamba justru harus ada keduanya (dua macam cara “penentuan” itu) agar Cahaya Alloh SWT yang Paling Sempurna tidak lewat begitu saja bagi Negeri ini, yang sama sekali bukan masalah benar atau salah, melainkan “qadar Cahaya Alloh SWT” akan dapat lebih sempurna tertangkap terserap pada hari dan saat yang “tepat”. Sehingga secara hakikat semua tetap mendapat “Cahaya Alloh SWT” dengan qadar masing-masing, sama sekali tidak ada istilah lain kecuali keduanya dibenarkan dibolehkan. Apakah hari “sabat” yang didapat pada Bani Israil itu harus sedemikian rupa diganti menjadi hari “Jumat”?  Padahal keduanya sama-sama “petunjukNya” dari Nabi-Nabi yang diturunkanNya? Apakah prilaku Nabi Musa AS harus diubah total menjadi prilaku Nabi Khidir AS padahal wilayah kehidupan kaumnya memang ada “perbedaan” pada masing-masingnya? Pada kenyataan sesungguhnya keduanya “sama-sama” benar, keduanya tetap hamba-hambaNya yang sangat sahih. Semua hal yang dasarnya hakekat maka “keberadaannya” jangan divonis bahkan semua justru “memakmurkan” manusia dengan rahmatNya, yang antar para Nabi dan RasulNya adalah seumpama membangun “sebuah rumah”. Persis sebagaimana peran matematika, fisika, kimia, biologi, kedokteran, bahasa, sosial, ekonomi danseterusnya masing-masing mengambil “peran” dalam kehidupan manusia, dan masing-masing tetap merasa benar dalam faknya pandangannya masing-masing (padahal sisi-sisi Agama itu justru lebih luas daripada sisi-sisi ilmu-ilmu Duniawi semacam fisika, matematika, bahasa dansebagainya, sehingga juga tidak layak Agama itu mesti “diperas” hanya Cuma dijadikan dipandang dari “satu sisi” saja). Maka demikian pula keberadaan Syiah, Sunni, NU, Muhammadiyah danseterusnya sehingga pada Akhir Jaman akan diputus oleh Alloh SWT Sendiri secara langsung. Yaitu bagaimana tiap “kebenaran” itu pasti akan “naik” ke Langit yaitu sebagai “cahaya” sehingga semua kebenaran dari siapapun akan sampai ke sisi Alloh SWT dan SurgaNya (menjadi Nilai-Nilai Surgawi), sedang yang “tidak benar” tidak akan menjadi cahaya, tetap gelap. Jadi diputus sama sekali bukan oleh seorang hamba atau siapapun melainkan Alloh SWT, hanya saja selama kita masih di dunia ini selayaknya memiliki dasar kuat yang kita yakini sebagai “petunjukNya”.
Bila pegangan sama-sama Al Quran dan Hadits baik itu golongan Sunni, Syiah, NU, Muhammadiyah danseterusnya maka “keberadaan semua” adalah  wajar, sebagaimana ilmu matematika, fisika, kimia danseterusnya. Jadi demikian pula keberadaan seluruh Agama-Agama bahkan di bintang gemintang dengan Nama wujud adat-istiadat kehidupan yang belum terbayangkan, akan tetapi yang jelas semua memiliki “fitrah Surgawi” yang sama semisal, semua pasti ingin ke Surga. Jadi renungkanlah, bahwa sisi-sisi Agama itu sesungguhnya sangatlah luas bahkan Tanpa Batas seluas SurgaNya itu, seluas Alam Semesta bintang gemintang, langit dan bumi, dengan berbagai wujud bentuk adat budaya bahkan yang takterbayangkan sama sekali dalam benak kita, karena itu sekali lagi janganlah “diperas” oleh Ego kita yang nyatanya masih sangat Lokalitas.
Dengan cara pandang demikian inilah seorang hamba sama sekali tidak hendak mengecilkan “peran” sedemikian penting keluarga besar Soekarno presiden pertama RI juga kedua ketiga hingga kini danseterusnya, serta Pemimpin-Pemimpin sela diantaranya Muhammad Natsir, kabinet Syahrir, bahkan kelompok-kelompok (yang dianggap pemberontak sekalipun) dalam sejarah Indonesia. Justru “peran” ibu Megawati dengan partainya (PDIP) itulah yang akan dapat meluruskan menyempurnakan mewujudkan cita-cita seorang Soekarno dengan PANCASILAnya. Akan tetapi ini adalah Masa Reformasi, maka hendaknya jangan dikembalikan ke “Nuansa” masa Orde Lama, sebagaimana juga tidak dikembalikan ke “Nuansa” masa Orde Baru. Yang jelas harus dapat menyempurnakan segala sesuatunya kepada yang lebih baik lebih bijak dari masa-masa (priode-priode) sebelumnya. Mudah-mudahan rancang bangun arah Reformasi oleh Para Tokoh-Tokohnya secara langsung akan dapat “bersesuaian” dengan “amanah” yang mesti ditegakkan hambaNya ini di seru sekalian alam bintang gemintang, rahmatan lil alamin, yang justru saling menunjang serta saling menguatkan. InsyaAlloh PANCASILA itu sendiri akan dapat sempurna menjadi Non Lokalitas, fitrah hakiki di sisi Alloh SWT, sehingga pastilah Nilai-Nilai Surgawi menjadi terpandang nyata dengan PANCASILA itu, yaitu dengan “petunjukNya”. Artinya semua harus disucikan dengan Kitab SuciNya, sehingga Nabi  (yang memiliki pandangan Alloh) itu sungguh lebih utama dari diri sendiri, sebagaimana prinsip nyata hambaNya ini. Yang akan menjadikan orang-orang yang berjuang didalamnya sebagai kaum yang berserah diri pada AgamaNya, yang akan secara sempurna termasuk diantara hamba-hambaNya, hingga sungguh akan memasuki SurgaNya.
Dengan “petunjukNya” maka segala keinginan yang fitri akan terakumulasi sempurna, bahkan termasuk seluruh Pemimpin-Pemimpin Negeri di segala penjuru pelosok bumi ini, hingga tujuan tiap Negeri di seluruh Dunia ini juga akan sempurna terakumulasi sebagai rahmat atas semesta alam, rahmatan lil alamin. Perbedaannya seorang hamba tidak hendak mengintervensi sedikitpun, cukuplah Agama serta Nilai-Nilai Surgawi yang ada pada masing-masing Negeri seluruhnya semuanya termasuk Negeri Cina, akan membawa masing-masing individu manusia dan kemanusiaannya (rakyatnya masing-masing)  kepada fitrah hakiki di sisi Alloh SWT. Karena itu tidak seharusnya ada lagi  peperangan-peperangan ganas yang saling menghancurkan bunuh-membunuh antar sesama manusia hanya karena “harta Duniawi” yang sungguh tidak seberapa ini, walau seseorang dapat memegang bumi ini seutuhnya dalam genggamannya. Padahal sungguh banyak bumi-bumi lain di bintang-gemintang ini, yang kelak ternikmati dalam KeMaha Luasan SurgaNya, bumi kita ini hanya bagaikan sebutir pasir ditengah padang pasir yang sangat luas. Karena itu betapa ingin seorang hamba menghimbau hentikanlah semua peperangan, berdamailah dengan hati nurani kalian masing-masing, lawanlah hawanapsu itu yang kini sedemikian rupa menyelimuti diri-diri kita, lenyapkanlah pandangan-pandangan picik sempit dari Ego-Ego diri yang sangat Lokalitas. Agar kita semua justru dapat memandang ke yang Non Lokalitas yaitu Nilai-Nilai Surgawi sesungguhnya yang luasnya Tanpa Batas dengan kehidupan kekal didalamnya.
Rakyat Negeri ini harus menyadari bahwa “Reformasi yang sesungguhnya” justru baru akan terjadi (dimulai) yaitu setelah mengubah pengalaman menjadi pelajaran demi masa depan. Walau seorang hamba menunjuk seorang diantara Tokoh Reformasi yaitu Amin Rais (juga sekaligus sebagai “Simbol” bahwa “Reformasilah” yang kita jalani), akan tetapi sesungguhnya Beliau hanya menggulirkan apa yang telah disimpulkan diputuskan dan yang merupakan Target dari seluruh Tokoh Reformasi yang akan duduk dalam “Satu Meja”, jadi bukan peran seorang diri. Sedang hambaNya ini hanya menghimpunkan “petunjuk” sehingga ditarik segala sesuatunya menuju Alloh SWT, dan karena sesuai hadits kalian lebih tahu tentang urusan duniawi kalian, sebagaimana juga terhadap Para Pemimpin Negeri-Negeri yang mau berserah diri demi tujuan hidupnya di dunia yang sangat sementara ini. Karena bagi seorang hamba cukuplah dengan Alloh SWT maka diri-diri manusia seluruhnya segala yang hidup dan yang mati dari seluruh mahluk ciptaanNya di seru sekalian alam bintang gemintang ini, pastilah akan mendapat rahmatNya tanpa pandang bulu, rahmatan lil alamin.
Bilapun teknologi Buraq yaitu teknologi Cahaya Diatas Cahaya adalah pengejawantahan nyata dari peristiwa Isra Mikraj, hal ini merupakan kekhususan bagaimana seorang hamba yang akan terbukti sungguh diberiNya “petunjuk”. Dan karena hal tersebut memang sudah saatnya terjadi, dimana manusia masa kini (walau tidak diakui oleh para Ilmuwan) sudah mulai merambah planet lain di alam semesta adalah sebenarnya juga rahmatNya. Perbedaannya Agama Alloh sebenarnya justru “petunjuk” paling mendasar dari kejadian sesungguhnya tentang Alam Semesta, sehingga penguasaan paling hakiki atas Alam Semesta ini justru tidak lain adalah dengan AgamaNya.
Memandang Alam Semesta dimana bumi ini hanya bagaikan sebutir pasir di padang pasir yang sangat luas di sekalian bintang gemintang. Maka seharusnya wajar bila kendaraan semisal “Buraq”lah yang akan dapat menjelajahinya dengan sempurna. Saat kita melihat kenyataan betapa teknologi Negeri ini masih jauh dibawah standar apalagi dengan kecepatan sangat tinggi semacam “cahaya”. Tentu menjadi suatu tanda Tanya besar pernyataan “Teknologi Buraq” atas hambaNya, apalagi dasarnya ajaran Agama yang dianggap tidak memiliki andil sedikitpun atas perkembangan Teknologi canggih yang ada saat ini. Sedemikian rupa (ajaran) Agama Alloh SWT itu terus berkembang dalam diri ini yang justru menjungkir balikkan semua anggapan-anggapan manusia tentang Agama selama ini, bahkan dari para Agamawan sekalipun. Pengetahuan Agama yang berkembang semakin membuat diri ini dibawa “Berisra Mikraj” karena yang terpandang justru “Realitas” dari isra mikraj itu sendiri. Bahwa diri ini bahkan seluruh umat manusia juga akan ditarik segala sesuatunya kepada (menuju) Alloh SWT, yaitu ketika peristiwa isra mikraj itu menjadi kenyataan (Realitas) yang sempurna. Dan yang jelas dalam pengejawantahan nyata dari peristiwa isra mikraj tersebut akan menjadikan seluruh mahluk ditarik menuju Tuhannya (yang seharusnya khususnya Para Agamawan yang akan dapat “menjawab” mengapa peristiwa Isra Mikraj itu pasti menjadi “Realitas”).
Kini “Nilailah” dengan lebih logis bijak dan realistis mengapa seorang hamba “dipersiapkan”, kalau semua ini bukan sebagai “isyarat” (pertanda) dari Tuhan sebagaimana dahulu Nabi Nuh AS diberi petunjuk untuk membuat “perahu”. Tentu saja memang berbeda karena saat ini manusia sedang giat-giatnya merencanakan perjalanan Antariksa ke bintang-bintang, padahal sangat-sangat menyadari “keterbatasan” usia, baagaimana mungkin mencapai bintang apalagi menjelajahi bintang gemintang tanpa “hidup kekal”? Tinjau kembali semua persepsi-persepsi Agama dengan ayat-ayat Alloh seluruhnya, umat Islam tentu kepada persepsi penafsiran pemaknaan isi ayat-ayat Al Quran (bukan terhadap teks Al Quran). Akan cocokkah dengan pandangan-pandangan seorang hamba yang terus bergulir mencapai “sempurna”?
Dimana “peyakinan” Teknologi Buraq, Teknologi Cahaya Diatas Cahaya adalah karena “bersumber” langsung dari dan bagi Nama-NamaNya Sendiri belaka, bagaimana prilaku “kun, faya kun” atas segala sesuatu itu semakin terjelaskan ketika secara sangat sempurna Asma ul Husna dalam Pemujian bagi DiriNya Sendiri itu merupakan “penyempurna” sesempurna-sempurnanya yang sangat nyata dari prilaku “Lima Unsur dari Negeri Cina”, sehingga sebab-musabab sesuatu itu jadi “kekal” akan dapat terjawab “sempurna” dari “mata rantai Asma ul Husna” tersebut, karena dengan itu pulalah rahmatNya yang Sembilan puluh Sembilan akan “disempurnakanNya” yaitu sebagai “Nilai-Nilai Surgawi”, kekal didalam EsaNya, itulah “sisi”Nya dalam KeMaha Luasan Tanpa Batas.(Bacalah tulisan-tulisan terdahulu sebelum ini).
Bahwa segala teori baik fisika, kimia, biologi, bahasa danseterusnya juga perkembangan-perkembangan pada tataran lebih tinggi dari teori-teori terbentuk Alam Semesta seluruhnya termasuk Theory of Everything justru akan dapat terjawab dan terpandang lebih sempurna dengan “mata rantai Asma ul Husna” tersebut diatas. Di “sisi”Nyalah Teknologi Maha Sempurna, Teknologi-Teknologi Surgawi termasuk didalamnya “Teknologi Buraq”, wujud-wujud kendaraan Maha Cepat, Cahaya Diatas Cahaya, dalam pergerakan Antar Bumi Antar Bintang sebagai hal yang sangat biasa, wajar, sangat umum pada saatnya nanti, yaitu di SurgaNya. Hanya saja bagaimana mungkin mencapai Surga orang-orang yang tidak mau membangun Nilai-Nilai Surgawi saat di dunia, apa dapat mencapai sidratul muntaha padahal “tidak sholat”? Tapi apa arti sholat bila kata-kata dalam sholat sebagai kalimat-kalimat Alloh SWT yang mesti dipatuhi tidak dijalani? Walau demikian panggilan-panggilan sholat yang “melekat” di hati, senantiasa terpanggil oleh panggilan sholat itu, sehingga hatinya ternyata “terbuka” untuk iman, ganjarannya sampailah di “pintu” Surga, tinggal mau memasuki Surga itu atau tidak? Kalau mau maka patuhilah dan jalanilah apa yang “dibacanya” dalam sholatnya itu, berbuat baiklah sebagaimana Alloh SWT berbuat baik untuk manusia serta seluruh mahluk, khususnya tentu terhadap diri sendiri, jadi berahlaklah dengan ahlak Alloh SWT.
Pandanglah hal tersebut diatas sebagai pelajaran dalam “menilai” seorang hamba, bahwa “ganjaran” baru akan didapat bila kita “melakukan sesuatu”. Ingin “rumah” maka harus ada yang membangun rumah sesuai dengan yang diinginkannya itu, mau “kendaraan” maka harus ada yang “membuat” kendaraan. Walaupun  segala sesuatu sebenarnya telah tertulis di Lauhil Mahfuz, akan tetapi tetap harus “dibentuk” maka “terbentuklah” di hadapannya. Kendaraan Buraq yang mengisra mikrajkan Rasulullah Muhammad SAW adalah “berasal” dari yang “langsung tertulis” di sisi Alloh SWT dan “mengejawantah” menuruti tulisan itu yaitu ayat-ayat Alloh SWT langsung. Jadi tidak sebagaimana Nabi Nuh AS yang membuat “perahu” di dunia ini dengan melalui “tahapan-tahapan” walau juga menuruti tulisan yang telah tertulis di Lauhil Mahfuz, sehingga jadilah “perahu” itu mengejawantah melalui “pekerjaan” Nabi Nuh AS tersebut. Demikianlah terjadi “pengejawantahan” dari apa yang tertulis di Lauhil Mahfuz, maka “pengejawantahan” Isra Mikraj dari ayat-ayat Al Quran jelas akan ada “Realitas Duniawi”, bagaimana “Buraq” itu dibentuk dan terbentuk, walau segala sesuatunya telah “tertulis” di Lauhil Mahfuz sebagaimana hal “perahu” Nabi Nuh AS. Semua menunjukkan bagaimana semua ayat-ayat Al Quran menjadi “Realitas”, atau dalam hal ini (Teknologi) Buraq adalah bagaikan “sebuah ide” maka “ide” itupun menjadi “Realitas” yang sempurna. Jadi “pandanglah” bagaimana tahap-tahap seorang hamba menjadikan “Buraq” itu sebagai “kendaraan” yang sangat “Realistis” (karena diharap bagi umum, umat manusia seluruhnya, sesuai rahmatNya pada segala mahluk), dan karena hal ini sebuah “kekhususan” yaitu pencapaian ke sebuah Bintang yang tertulis jelas dalam Al Quran, yaitu Bintang Syira yang merupakan Kehendak Alloh SWT bagaimana ayat-ayat Al Quran itu sungguh-sungguh (akan dapat dibuktikan), bukan hanya tulisan omong kosong khayal dan tanpa bukti. Dimana seorang hamba sebenarnya hanya “mengikuti” yang tertulis saja, sebagai Taqdir yang mesti terjadi dan harus dijalani. Kemudian pandanglah pula bagaimana seluruh semua Kitab-Kitab SuciNya yang semua juga tertulis di Lauhil Mahfuz itu akan menjadi “Realitas” sesungguhnya, dan itulah “Hari Agama” yang dijanjikan.
Sebagai jangkauan nyata wilayah sesungguhnya “kekalifahan manusia” memang adalah (Teknologi) Buraq, teknologi Cahaya Diatas Cahaya yang dengan itu manusia sungguh dapat mencapai Bintang, khususnya Bintang Syira, walau pada kenyataannya tidaklah sederhana, bahkan tak selumrah yang terbayangkan. Bahwa teknologi pesawat terbang hanyalah “gejala” (kekalifahan manusia itu) sedang kesempurnaan sesungguhnya hanyalah di sisi Alloh SWT, semua dari “ketundukan” Alam Semesta kepada Tuhannya (Sunnatullah). Akan tetapi terhadap seorang hamba janganlah dengan iman, karena keimanan kalian harus dikembalikan kepada para Nabi dan RasulNya dengan seluruh Kitab-Kitab Suci yang dibawanya, seperti keimanan diri hambaNya ini justru atas mereka. Bahkan karena juga justru pintu iman serta taubat akan “tertutup” atas kehadiran hambaNya ini, karena ketika seluruh isi Kitab-KitabNya telah menjadi “kenyataan” maka dengan sendirinya “iman” sudah tidak diperlukan lagi, “praktis dan otomatis” pintu taubat juga akan “tertutup”. Hari Agama dimana seluruh “kebenaran” dari seluruh AgamaNya akan menjadi “kenyataan”, akan ditarik seluruh mahluk kepada Tuhannya.
Bahwa semua menuju dan mengikuti apa yang dianggapnya sebagai Tuhannya, akan tetapi akan “lenyaplah” Tuhan-Tuhan yang bathil, sedang yang dianggapnya sebagai Tuhan itupun juga “ditarik” kepadaNya. Yang bathil pasti musnah lenyap dan janji-janji hanyalah fatamorgana belaka. Itulah kalimat-kalimat Syaitan yang demikian “melekat” padanya, dan telah menjadi “duri” dalam darah dagingnya (sebagaimana yang dimakan itu atas yang bathil telah menjadi darah dagingnya). Akan “musnah” Tuhan-Tuhan selain yang Memiliki Asma ul Husna. Kalimat-kalimat syaitan itu adalah bathil berupa fatamorgana belaka, sedang kalimat-kalimat Alloh SWT itu pasti benar sehingga apa yang disebut “Surga” pastilah “Surga Sesungguhnya”, dimana dirinya pasti tidak akan ditinggalkan oleh Tuhan yang sesungguhnya itu, karena memang bukan fatamorgana jadi sungguh hakekat.
Bahwa kebathilan dari kalimat-kalimat syaitan juga ada didalam Islam, karena senantiasa menyerang “semua Agama”, sehingga seluruh semua Agama tanpa kecuali ada dimasuki kalimat-kalimat syaitan itu. Hanya saja tiap Nabi dan RasulNya pasti memiliki kalimat-kaliamat penyelamat yang merupakan syafaat bagi orang-orang yang sungguh-sungguh beriman, yang menjadi hak preogatif para Nabi dan RasulNya itu di sisi Alloh SWT atas masing-masing umatnya. Sehingga   siapa yang sungguh-sungguh beriman.pastilah “cahayanya” akan “bersesuaian” dengan cahaya hakekat dari para Nabi dan RasulNya itu. Jadi selayaknya para Pemimpin Agama justru bersama-sama “meneliti” kembali isi Kitab yang dibawanya itu. Tidak perlu ada “ketersinggungan” karena semua Agama tanpa kecuali mengalami hal sama.Bahwa seorang hamba memang sangat berharap bahwa Reformasi yang dijalani Negeri ini, dapat mendukung dan sejalan sehingga dapat bersama-sama menjalani “amanah” apakah dari sisi Agama oleh hambaNya ini, maupun kenegaraan oleh Para Tokoh Reformasi, wallahu ‘alam bishshowwab. Winarno, masnano ponakan bu Retti, Paron, Ngawi.

No comments:

Post a Comment